KPPMPI Sebut Minat Pemuda Jadi Nelayan Menurun Akibat Laut Tercemar, Kok Bisa?
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir (KPPMPI) menyebut minat generasi muda untuk menjadi nelayan semakin menurun seiring meningkatnya pencemaran laut. Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam keberlanjutan regenerasi nelayan di Indonesia.
Ketua Umum KPPMPI, Hendra Wiguna, mengatakan bahwa penurunan minat tersebut bukan semata karena perubahan preferensi pekerjaan, melainkan akibat kondisi ekosistem laut yang kian memburuk.
“Minat pemuda pesisir terus menurun. Bukan karena mereka tidak ingin, tetapi karena kondisi laut yang semakin tercemar membuat hasil tangkapan tidak lagi menjanjikan,” ungkap Hendra dalam keterangannya, Kamis (9/4).
Ia mengungkapkan, hasil studi terbaru menunjukkan sekitar 70 persen kawasan konservasi laut telah terkontaminasi limbah cair yang berasal dari aktivitas domestik, industri, serta aliran dari daratan menuju laut.
Pencemaran tersebut bahkan telah menjangkau wilayah yang seharusnya menjadi zona perlindungan ekosistem, sehingga memperburuk ketidakpastian ekonomi nelayan.
BACA JUGA
- BPOM akan Terapkan Label “Nutri-Level” Demi Tekan Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak
- Viral di Medsos, BGN Buka Suara Soal Pengadaan Motor Listrik untuk Program MBG
- Gunung Bromo Ditutup Sementara Demi Pemulihan Ekosistem dan Kelestarian
Hasil tangkapan yang menurun, ditambah biaya operasional yang tetap tinggi, membuat profesi nelayan semakin kurang diminati oleh generasi muda. “Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi sudah menjadi persoalan sosial dan ekonomi. Jika dibiarkan, kita bisa kehilangan generasi nelayan,” tutur dia.
Menurut Hendra, kerusakan ekosistem laut tidak hanya berdampak pada sektor perikanan, tetapi juga mengancam ketahanan pangan serta kehidupan masyarakat pesisir secara luas.
Di wilayah pesisir Cilamaya, misalnya, aktivitas eksplorasi perusahaan pembangkit listrik diduga menjadi salah satu sumber pencemaran yang berdampak langsung pada nelayan kecil.
“Dulu nelayan bisa mendapatkan Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari. Sekarang, untuk mendapatkan Rp50.000 saja sudah sangat sulit. Ikan semakin jarang ditemukan di wilayah tangkap mereka,” jelas Hendra.
Fenomena serupa juga terjadi di Bintan, Kepulauan Riau, di mana limbah batu bara dan tumpahan minyak dilaporkan mengganggu aktivitas penangkapan ikan sekaligus merusak sektor pariwisata bahari.
Sementara itu, di Tarakan, hasil tangkapan nelayan kecil terus menurun akibat pencemaran sampah yang diduga berasal dari pengelolaan limbah domestik dan industri yang belum optimal.
“Jika wilayah pesisir terus tercemar, ikan akan kesulitan berkembang biak. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak ekosistem laut,” beber Hendra.
KPPMPI mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah konkret dalam mengatasi pencemaran laut, termasuk melalui penguatan regulasi dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran.
Selain itu, diperlukan kebijakan yang mendukung nelayan muda, seperti akses terhadap teknologi, pelatihan, serta perlindungan ekonomi guna meningkatkan daya tarik sektor perikanan.
“Jika laut dapat dipulihkan, kami yakin pemuda akan kembali melihat masa depan di sektor perikanan. Namun jika tidak, kita akan menghadapi krisis regenerasi nelayan yang nyata,” papar dia.
