Kemenkes: Hampir 10 Persen Anak Indonesia Terindikasi Gangguan Kecemasan dan Depresi
Jakarta, sustainlifetoday.com – Isu kesehatan mental anak di Indonesia menjadi perhatian serius setelah hasil skrining kesehatan nasional menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Pemeriksaan dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia.
Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani pemeriksaan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah yang signifikan. Secara total, sekitar 700 ribu anak terindikasi mengalami gejala tersebut.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merinci bahwa sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala gangguan kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak lainnya menunjukkan gejala depresi (depression disorder).
“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi dalam keterangannya dilansir jumat (13/3).
Temuan ini memperlihatkan bahwa gangguan kecemasan pada anak Indonesia bukan sekadar kasus sporadis, melainkan fenomena yang semakin meluas dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Kekhawatiran pemerintah pun bukan tanpa alasan. Persoalan kesehatan mental yang tidak tertangani sejak dini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih berat di masa depan.
BACA JUGA
- Dukung Program “Gentengisasi”, BRIN Kembangkan Genting Komposit dari Limbah Biomassa
- Ajinomoto Dorong Pengurangan Plastik dan Edukasi Sampah Lewat Program Ajinomoto Health Provider
- Zulhas Targetkan Waste to Energy Beroperasi 2027, Empat Kota akan Jadi Tahap Awal
Data dari Global School-Based Student Health Survey juga menunjukkan tren peningkatan jumlah anak yang mencoba bunuh diri. Angkanya meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Menurut Budi, pendekatan penanganan tidak dapat hanya berfokus pada anak. Lingkungan keluarga dan sekolah juga perlu terlibat aktif dalam menciptakan kondisi yang mendukung kesehatan mental.
“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP),” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Kemenkes menargetkan perluasan skrining kesehatan mental hingga menjangkau 25 juta anak di seluruh Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat deteksi dini sehingga anak yang membutuhkan bantuan bisa segera mendapatkan penanganan.
BACA JUGA
- ESG Berubah Jadi Risiko Finansial, Mardiasmo Soroti Dampaknya pada Cost of Capital
- Governance Failures Bisa Picu Krisis Reputasi Korporasi, Ini Peringatan Herry Ginanjar
- Herry Putranto Ingatkan Risiko Iklim terhadap Operasional dan Rantai Pasok Global
