Herry Putranto Ingatkan Risiko Iklim terhadap Operasional dan Rantai Pasok Global
Jakarta, sustainlifetoday.com — Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI) S. Herry Putranto mengingatkan bahwa risiko perubahan iklim semakin berdampak langsung terhadap operasional perusahaan dan ketahanan rantai pasok global. Karena itu, korporasi perlu memperkuat strategi adaptasi dan mitigasi iklim sebagai bagian dari manajemen risiko bisnis.
Hal tersebut disampaikan Herry Putranto dalam forum ESG Risk Landscape 2026: What Corporations Must Prepare for in 2026? yang diselenggarakan oleh SustainLife Media Network pada Rabu (4/3) di Swiss-Belhotel Pondok Indah, Jakarta.
Forum diskusi yang dirangkai dengan agenda buka puasa bersama tersebut dimoderatori oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Universitas Pertamina, Dewi Hanggraeni.
Dalam paparannya bertajuk “Climate Related Operational & Supply Chain Risks,” Herry menjelaskan bahwa perubahan iklim telah menciptakan berbagai risiko baru bagi dunia usaha, mulai dari gangguan operasional hingga ketidakpastian dalam rantai pasok.
Menurutnya, sejumlah faktor utama perubahan iklim yang perlu diperhatikan korporasi antara lain peningkatan suhu global, perubahan pola cuaca, kenaikan permukaan laut, perubahan ekosistem dan biodiversitas, serta dampak sosial ekonomi yang menyertainya.
“Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi stabilitas produksi, infrastruktur, hingga distribusi energi dan bahan baku di berbagai sektor industri,” ujar Herry Putranto.
Selain risiko fisik akibat perubahan iklim, Herry juga menyoroti tantangan transisi energi global yang semakin kompleks. Ia menyebut industri energi saat ini berada di tengah dinamika besar yang dikenal sebagai energy trilemma, yakni kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keberlanjutan lingkungan, dan keterjangkauan energi bagi masyarakat.
Dalam menghadapi perubahan tersebut, perusahaan energi perlu mengembangkan strategi transisi menuju sistem energi yang lebih rendah emisi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mengurangi emisi dari aktivitas operasional, meningkatkan efisiensi energi, serta memperluas pemanfaatan energi terbarukan.
Selain itu, perusahaan juga dapat mengeksplorasi teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) maupun pendekatan penghilangan karbon sebagai bagian dari upaya mitigasi emisi.
“Perusahaan perlu berkolaborasi sepanjang rantai pasok dan rantai nilai untuk meningkatkan efisiensi sekaligus transparansi dalam pengungkapan emisi,” jelasnya.
Herry juga menekankan pentingnya pengelolaan risiko fisik akibat perubahan iklim melalui pendekatan adaptasi yang lebih sistematis. Hal ini dapat dilakukan dengan menilai dampak finansial dari risiko iklim secara kuantitatif, memantau potensi bahaya iklim secara berkala, serta memasukkan analisis risiko iklim dalam desain proyek dan investasi baru.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar perusahaan mampu menjaga keberlanjutan operasional di tengah meningkatnya intensitas bencana terkait iklim.
Selain itu, perusahaan juga perlu memperhatikan emisi di sepanjang rantai nilai melalui kerangka GHG Protocol, termasuk emisi dari barang dan jasa yang dibeli serta pengadaan peralatan produksi.
Dalam konteks industri energi nasional, Herry menilai strategi mitigasi risiko iklim perlu diintegrasikan dengan kebijakan dan strategi bisnis perusahaan agar dapat mendukung target transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Forum ESG Risk Landscape 2026 sendiri menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai sektor untuk membahas risiko ESG yang diperkirakan semakin memengaruhi kinerja korporasi pada tahun-tahun mendatang, termasuk risiko iklim, sosial, maupun tata kelola perusahaan.
Sebagai platform media yang berfokus pada isu keberlanjutan, SustainLife Media Network secara konsisten menyuarakan pentingnya penerapan ESG melalui berbagai forum diskusi dan inisiatif kolaboratif. Selain ESG Risk Landscape, SustainLife juga menyelenggarakan sejumlah agenda lain seperti Indonesia Sustainable Business Forum (ISBF) serta ESG Initiative Awards (EIA) yang bertujuan mendorong praktik bisnis berkelanjutan di berbagai sektor.
BACA JUGA
