Efisiensi Energi hingga EV Melejit, China Perkuat Posisi di Ekonomi Hijau Global
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Transformasi menuju ekonomi hijau dan rendah karbon semakin menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi berkualitas di China. Dorongan kebijakan pemerintah yang kuat, ditambah inovasi industri di berbagai sektor, mendorong percepatan integrasi antara efisiensi energi dan digitalisasi.
Di sektor manufaktur, perubahan ini terlihat dari langkah perusahaan optoelektronik WG Tech di Provinsi Jiangxi. Perusahaan yang memproduksi kaca substrat untuk layar perangkat elektronik tersebut berhasil menurunkan konsumsi energi per unit produk hingga 37,5 persen melalui penerapan teknologi cerdas dan sistem digital.
Chairman WG Tech, Yi Weihua, menegaskan bahwa arah transformasi industri kini telah berkembang.
“Sekarang, ‘penghijauan’ telah menjadi pendorong ketiga selain otomatisasi dan digitalisasi,” ujarnya dikutip dari Xinhua, Rabu (1/4).
Arah ini juga diperkuat oleh kebijakan pemerintah China yang menargetkan penurunan emisi karbon dioksida sebesar 17 persen per unit produk domestik bruto (PDB) dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030). Target tersebut menegaskan komitmen negara dalam mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip keberlanjutan.
Transformasi serupa juga terlihat di sektor otomotif. Di pabrik Jiangling Motors di Nanchang, sistem pemantauan energi berbasis digital telah digunakan untuk melacak konsumsi energi dan jejak karbon secara real-time dalam setiap proses produksi.
“Pengembangan hijau telah menjadi elemen inti dalam daya saing perusahaan,” kata teknisi Jiangling Motors, Liu Hui.
BACA JUGA
- Rorotan Jadi Percontohan, KLH Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah
- Tito Karnavian: Kebijakan Soal WFH Kemungkinan Diumumkan Besok
- Hari Nol Sampah Sedunia, Dorong Perubahan Pola Konsumsi dan Pengelolaan Limbah
Perkembangan kendaraan energi baru (new energy vehicles/NEV) di China pun menunjukkan tren signifikan. Pada 2025, produksi dan penjualan mobil masing-masing melampaui 34 juta unit, dengan kendaraan listrik menyumbang lebih dari 50 persen penjualan mobil baru di dalam negeri.
Di sisi lain, sektor energi terbarukan juga tumbuh pesat. Hingga akhir 2025, kapasitas terpasang energi terbarukan China mencapai 2,34 miliar kilowatt. Dalam lima tahun terakhir, porsi energi terbarukan meningkat dari 40 persen menjadi sekitar 60 persen, menandakan percepatan transisi energi yang signifikan.
Perusahaan seperti Jinko Solar bahkan telah menerapkan sistem pelacakan jejak karbon pada setiap panel surya yang diproduksi dan diekspor. Upaya ini dinilai dapat meningkatkan transparansi sekaligus memperkuat rantai pasok hijau di tingkat global.
Menurut akademisi dari Jiangxi University of Finance and Economics, Carl Simon, transformasi hijau di China didorong oleh inovasi sistemik yang menggabungkan teknologi, industri, dan mekanisme pasar. “Transformasi hijau China menjadi mesin kuat untuk mendorong pembangunan berkualitas tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi dan integrasi rantai industri turut menekan biaya teknologi bersih, sekaligus mempercepat transisi rendah karbon secara global.
Ke depan, pemerintah China semakin menempatkan indikator hijau sebagai elemen kunci dalam pembangunan ekonomi. Dalam Rencana Lima Tahun ke-15, lima dari delapan indikator utama difokuskan pada aspek rendah karbon dan keberlanjutan. Langkah ini menegaskan bahwa transisi energi dan industrialisasi hijau kini menjadi strategi utama China untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim global.
