Earth Hour 2026 Digelar Malam Ini, Masyarakat Diajak Matikan Lampu 1 Jam untuk Bumi
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Gerakan global Earth Hour kembali digelar pada Sabtu (28/3) pukul 20.30–21.30 waktu setempat. Aksi tahunan yang diinisiasi oleh World Wide Fund for Nature (WWF) ini mengajak masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk mematikan lampu dan perangkat listrik yang tidak diperlukan selama satu jam sebagai simbol komitmen terhadap perlindungan lingkungan dan penanganan perubahan iklim.
Earth Hour pertama kali digelar pada 2007 di Sydney dan kini telah berkembang menjadi gerakan global yang diikuti lebih dari 190 negara dan wilayah. Tahun 2026 menjadi momentum penting karena menandai dua dekade gerakan tersebut dalam mendorong aksi kolektif menghadapi krisis iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati.
Selain pemadaman lampu, Earth Hour 2026 juga mengusung kampanye “Give an Hour for Earth” yang mendorong masyarakat melakukan aksi nyata selama satu jam untuk lingkungan. Kampanye ini menekankan bahwa setiap individu dapat berkontribusi melalui berbagai tindakan sederhana, mulai dari mengurangi konsumsi energi hingga melakukan aktivitas yang berdampak positif bagi lingkungan.
BACA JUGA
- Euforia Kripto Dibayangi Jejak Karbon Raksasa, Emisinya Setara Satu Negara!
- Lebaran 2026 Bisa Picu 72 Ribu Ton Sampah, Mudik Massal Jadi Ancaman Lingkungan?
- Mudik Pakai Mobil Listrik Bisa Hemat 40%, EV Mulai Kuasai Jalanan Lebaran 2026
Di Indonesia, Earth Hour telah berkembang menjadi gerakan komunitas yang melibatkan berbagai kota dan ribuan relawan. Kampanye ini tidak hanya terbatas pada pemadaman lampu, tetapi juga diikuti berbagai kegiatan lingkungan seperti penanaman mangrove, transplantasi terumbu karang, hingga edukasi perubahan gaya hidup berkelanjutan di sekolah dan kampus. WWF Indonesia mencatat kegiatan Earth Hour telah dilakukan di puluhan kota dengan dukungan ribuan relawan dan berbagai komunitas lokal.
Earth Hour dinilai semakin relevan bagi Indonesia, mengingat konsumsi energi yang terus meningkat serta dampak perubahan iklim yang semakin terasa, mulai dari cuaca ekstrem hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Melalui aksi simbolik ini, Earth Hour diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih hemat energi dan rendah karbon.
Meskipun hanya berlangsung satu jam, Earth Hour menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap krisis iklim global. WWF menekankan bahwa aksi tersebut bukan sekadar mematikan lampu, tetapi juga mengajak masyarakat untuk menjadikan satu jam tersebut sebagai awal dari perubahan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
