Deforestasi Indonesia Melonjak 66% pada 2025, Kalimantan dan Papua Jadi Sorotan
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Laju deforestasi Indonesia kembali menunjukkan tren peningkatan signifikan pada 2025. Laporan terbaru dari Auriga Nusantara mencatat, luas deforestasi melonjak 66 persen dari 261.575 hektar pada 2024 menjadi 433.751 hektar pada 2025.
Dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 (STADI 2025), Kalimantan masih menjadi wilayah dengan tingkat kehilangan hutan terbesar selama periode 2021–2025. Pada 2025 saja, luas deforestasi di pulau tersebut mencapai 158.283 hektar.
“Pada tahun 2025, semua pulau besar di Indonesia mengalami perluasan deforestasi, dengan Papua mengalami peningkatan terbesar sebesar 60.337 hektar dibandingkan tahun 2024,” kata Auriga dalam keterangannya, Rabu (1/4).
Tak hanya itu, lonjakan paling drastis secara persentase terjadi di Pulau Jawa. Angka deforestasi di wilayah ini melonjak hingga 440 persen, dari 411 hektare pada 2024 menjadi 2.221 hektare di 2025.
Secara bulanan, rata-rata deforestasi di Indonesia sepanjang 2025 mencapai 36.146 hektar, dengan puncak terjadi pada April dan Oktober, serta tingkat tertinggi tercatat pada Mei. Sejumlah provinsi mencatat angka deforestasi tertinggi, terutama di Kalimantan, Sumatera, dan Papua.
“Tiga provinsi yang mengalami longsor dan banjir besar di Sumatera bagian utara pada akhir tahun 2025 mencatat peningkatan deforestasi yang drastis yakni Aceh (426 persen), Sumatera Utara (281 persen), dan Sumatera Barat (1.034 persen),” papar laporan Auriga.
BACA JUGA
- Rorotan Jadi Percontohan, KLH Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah
- Indonesia Pinjamkan Komodo ke Jepang untuk Program Pembiakan, Edukasi & Konservasi
- Hari Nol Sampah Sedunia, Dorong Perubahan Pola Konsumsi dan Pengelolaan Limbah
Penghitungan ini dilakukan melalui kombinasi pemodelan spasial berbasis citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter, inspeksi visual, serta verifikasi lapangan. Auriga juga memanfaatkan berbagai referensi data seperti peta tutupan hutan alami dari MapBiomas Indonesia, Kementerian Kehutanan, hingga dataset global ketahanan hutan.
Selain analisis data, Auriga melakukan verifikasi langsung dengan mengunjungi 49.321 hektar lokasi deforestasi di 38 desa, 28 kabupaten, dan 16 provinsi di berbagai wilayah Indonesia.
Menariknya, jumlah wilayah administratif yang terdampak deforestasi justru menurun dari 514 kabupaten/kota pada 2024 menjadi 383 pada 2025. Namun, konsentrasi deforestasi semakin terpusat di sejumlah wilayah, terutama di Kalimantan dan Papua, yang menyumbang sekitar 22 persen dari total deforestasi nasional.
“Terkait status penguasaan lahan, 307.861 hektar deforestasi terjadi di dalam kawasan hutan yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan, sementara 125.890 hektar terjadi di area penggunaan lain (APL) yang dikelola oleh pemerintah daerah atau pemegang lahan atau konsesi,” beber Auriga.
Program ketahanan pangan juga disebut berkontribusi terhadap tekanan terhadap hutan. Dari total alokasi 20,6 juta hektar kawasan hutan untuk pangan, energi, dan cadangan air, sekitar 18 persen deforestasi nasional atau 78.123 hektar terjadi di dalam area tersebut.
