Cotton vs Polyester, Mana Pilihan Bahan Baju Lebaran yang Lebih Ramah Lingkungan?
Jakarta, sustainlifetoday.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat mulai berburu pakaian baru. Di tengah meningkatnya pilihan produk fashion, konsumen diingatkan untuk lebih bijak dalam memilih bahan pakaian agar tidak menambah jumlah limbah tekstil.
Di era modern saat ini, berbagai pilihan fashion tersedia di pasar, mulai dari produk yang bersifat mewah hingga yang mengusung konsep berkelanjutan. Namun, selain mempertimbangkan gaya, pemilihan bahan pakaian juga dinilai penting untuk memastikan kenyamanan sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
Salah satu bahan yang banyak digunakan masyarakat adalah katun. Kini, bahan tersebut juga hadir dalam versi yang lebih ramah lingkungan melalui konsep sustainable cotton. Dilansir dari laman Benang Jarum, di negara beriklim tropis seperti Indonesia, bahan katun menjadi salah satu opsi terbaik yang dapat dipilih.
Hal ini karena katun memiliki sifat lembut dan nyaman ketika dipakai. Selain itu, sustainable cotton juga merupakan bahan yang mudah terurai. Menurut Green Citizen, hanya butuh sekitar 12 minggu untuk bahan ini agar dapat terurai.
BACA JUGA
- Dukung Program “Gentengisasi”, BRIN Kembangkan Genting Komposit dari Limbah Biomassa
- PNM Dorong Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro, Jangkau 22,9 Juta Nasabah Mekaar
- BYD Pertimbangkan Masuk Ajang F1, Pakai Mobil Listrik?
Dilansir dari International Institute for Sustainable Development (IISD), berbagai merek fashion saat ini juga telah berkomitmen untuk menggunakan 100 persen sustainable cotton pada produk yang mereka jual. Sejumlah standar produksi sustainable cotton juga telah dikembangkan, seperti Better Cotton Initiative (BCI), Global Organic Textile Standard (GOTS), Cotton made in Africa (CmiA), dan Organic Content Standard (OCS).
Standar tersebut mendorong produsen kapas untuk mengurangi dampak lingkungan dan sosial dalam proses produksi, seperti meningkatkan upah kerja serta mengurangi penggunaan pestisida dan air, meskipun kriteria kepatuhan antarstandar dapat bervariasi.
Selain sustainable cotton, polyester daur ulang atau recycle polyester juga mulai banyak digunakan dalam industri fashion yang mengusung konsep ramah lingkungan. Dilansir dari Hadtex pada Kamis (12/3/2026), bahan utama dari pembuatan recycle polyester adalah botol bekas dari jenis plastik PET, sehingga dapat membantu mengurangi jumlah limbah botol plastik.
Meski menggunakan bahan daur ulang, recycle polyester memiliki karakteristik yang serupa dengan polyester konvensional, seperti tidak mudah kusut dan memiliki tingkat ketahanan yang tinggi meskipun telah dicuci berkali-kali.
Namun demikian, polyester daur ulang juga memiliki potensi dampak negatif terhadap lingkungan. Serat mikroplastik dapat terlepas saat pakaian dicuci dan berpotensi mencemari ekosistem laut.
Dengan berbagai pilihan bahan yang tersedia, konsumen diharapkan dapat mempertimbangkan aspek kenyamanan, daya tahan, serta dampak lingkungan sebelum membeli pakaian, khususnya menjelang meningkatnya konsumsi fashion saat Lebaran.
BACA JUGA
