Biogas Sawit Diolah Jadi Biometanol, Pertamina NRE Siapkan Proyek Percontohan
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menjajaki pengembangan bisnis biometanol dari biogas melalui kerja sama dengan CRecTech Pte. Ltd.. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman untuk mengeksplorasi pembangunan fasilitas percontohan konversi biogas menjadi biometanol di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi Pertamina NRE dalam memperluas portofolio energi hijau berbasis sumber daya domestik. Biogas yang diolah dari limbah kelapa sawit dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan bakar bernilai tambah, sekaligus membuka peluang Indonesia memperkuat posisi dalam rantai pasok energi bersih global.
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, mengatakan kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam mendorong hilirisasi energi terbarukan berbasis biogas.
“Kolaborasi ini merupakan langkah konkret Pertamina NRE dalam mengakselerasi pemanfaatan biogas menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti biometanol,” kata John dalam keterangan resmi, Rabu (8/4).
Ia menambahkan, salah satu keunggulan Indonesia terletak pada ketersediaan limbah kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi fondasi dalam membangun rantai nilai bahan bakar hijau yang kompetitif dan berkelanjutan.
Sebagai tahap awal, Pertamina NRE dan CRecTech akan melakukan studi bersama untuk menilai kelayakan pembangunan fasilitas percontohan di KEK Sei Mangkei. Jika hasilnya menunjukkan prospek yang positif, kerja sama akan dilanjutkan dengan penerapan teknologi katalitik CRecREF™ pada Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di kawasan tersebut.
BACA JUGA
- Studi: AI Makin Sering Berbohong, Jadi Ancaman Serius di Masa Depan?
- IIF Perkuat Pembiayaan Hijau, Dorong Infrastruktur Rendah Karbon di Indonesia
- Punya 100 Data Center AI, Suhu Panas Jakarta Terancam Naik Signifikan
John menegaskan, perusahaan menargetkan pengembangan ini tidak berhenti pada tahap pilot project, tetapi dapat ditingkatkan ke skala industri.
“Ke depan, kami berharap inisiatif ini tidak hanya berhenti pada tahap percontohan, tetapi dapat segera ditingkatkan ke level komersial yang lebih besar,” ujar dia.
Di sisi lain, CEO CRecTech, Kang Hui Lim, menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan memungkinkan konversi biogas dilakukan langsung di lokasi produksi dengan kebutuhan investasi yang lebih efisien dibandingkan pabrik metanol konvensional.
“Potensi biogas di Indonesia sangat besar, dan Pertamina NRE merupakan mitra yang tepat untuk mengubah keunggulan sumber daya tersebut menjadi pasokan biometanol yang bernilai komersial,” jelas Kang Hui Lim.
Pengembangan biometanol ini dinilai sejalan dengan tren global, khususnya di sektor pelayaran yang mulai beralih ke bahan bakar rendah karbon. Biometanol menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan dalam upaya dekarbonisasi sektor maritim.
Di dalam negeri, sumber utama biogas berasal dari limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Pertamina NRE telah mengidentifikasi sejumlah lokasi dengan potensi bahan baku besar dalam portofolionya, termasuk KEK Sei Mangkei.
