Ancaman Cuaca Ekstrem dan Banjir, Pemprov DKI Pertimbangkan Opsi WFH dan PJJ
Jakarta, sustainlifetoday.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi banjir akibat cuaca ekstrem dengan membuka opsi kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi pegawai dan pekerja di ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyatakan kebijakan WFH akan diberlakukan apabila terdapat indikasi banjir yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pada hari kerja.
“Kalau memang akan terulang kembali dan mudah-mudahan tidak, karena kemarin ketika curah hujan di hari Sabtu-Minggu, kebetulan libur panjang sehingga tidak memerlukan ‘Work From Home’,” katanya di Balai Kota Jakarta, Rabu (21/1).
Pramono menegaskan, apabila kondisi serupa terjadi di hari kerja dan banjir tak terhindarkan, pemerintah daerah akan segera mengambil keputusan WFH sebagai langkah mitigasi dampak sosial dan mobilitas warga.
Selain sektor ketenagakerjaan, kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga akan diterapkan apabila banjir dinilai cukup parah dan mengganggu aktivitas pendidikan di Jakarta.
Baca Juga:
- BGN: Tata Kelola MBG Membaik, Kasus Keracunan Makanan Turun Signifikan
- Hadapi Perubahan Iklim, Pramono: Groundbreaking Giant Sea Wall Jakarta Dimulai September 2026
- Badai Geomagnetik Level Berat akan Melanda Bumi, BMKG: Indonesia Relatif Aman
Menurut Pramono, kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem menjadi prioritas, termasuk dalam pengelolaan anggaran. Untuk pertama kalinya, Pemprov DKI menyiapkan anggaran modifikasi cuaca untuk periode satu bulan penuh, lebih lama dibanding praktik sebelumnya.
“Biasanya hanya satu, dua, tiga hari. Kenapa itu kami lakukan? Kami tidak pengin kemudian apa ya, karena ini memang cuaca-cuaca ini lagi ekstrem sekali,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa hujan deras sebelumnya menyebabkan banjir di hampir seluruh wilayah sepanjang Pantai Utara Jawa. Di Jakarta sendiri, Pramono meminta seluruh pompa air milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dimaksimalkan untuk mempercepat surutnya genangan.
Meski demikian, ia mengakui bahwa curah hujan ekstrem tetap berpotensi memicu banjir di berbagai wilayah Jakarta.
“Tetapi kenapa di Jakarta bisa mengalami cepat surut? karena memang fasilitas pompanya cukup untuk melakukan itu. Walaupun, kalau kemudian curah hujannya rata-rata seperti hari Sabtu-Minggu di atas 250 (mm), itu pasti akan terjadi genangan banjir di mana-mana,” katanya.
Pramono juga menjelaskan bahwa genangan banjir yang terjadi pada Sabtu (17/1) berlangsung meskipun upaya modifikasi cuaca telah disiapkan. Saat itu, prakiraan cuaca menunjukkan curah hujan tidak terlalu tinggi sehingga OMC belum dilakukan. Namun, realisasi hujan justru melampaui prediksi.
Curah hujan pada hari tersebut tercatat mencapai 260 hingga 280 milimeter. Merespons kondisi itu, Pemprov DKI langsung mengintensifkan modifikasi cuaca pada Minggu (18/1) dengan tiga kali penerbangan.
Pramono menilai langkah tersebut krusial untuk menekan dampak banjir yang lebih luas.
Ia mengklaim, tanpa OMC pada Minggu, jumlah wilayah Jakarta yang tergenang bisa jauh lebih besar. Sebaliknya, intervensi tersebut dinilai mampu meringankan dampak banjir di sejumlah kawasan ibu kota.
