Prabowo: Energi Nuklir Paling Murah dan Bersih
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa energi nuklir merupakan salah satu sumber energi paling murah dan paling bersih, namun implementasinya masih bergantung pada kesiapan sistem keamanan.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat berdiskusi dengan sejumlah tokoh nasional, termasuk Mardigu Wowiek, pengusaha sekaligus pengamat geopolitik global, yang menanyakan rencana pemerintah terkait nuclear power dan energi baru terbarukan (EBT).
“Nuclear power paling murah dan paling bersih, tinggal bagaimana kita menangani safety,” ujar Prabowo dalam diskusi tersebut.
Selain energi nuklir, Prabowo juga menekankan pengembangan energi surya sebagai salah satu tulang punggung transisi energi nasional. Ia menyebut Indonesia berpotensi mencapai ratusan gigawatt listrik dari tenaga surya.
BACA JUGA
- Euforia Kripto Dibayangi Jejak Karbon Raksasa, Emisinya Setara Satu Negara!
- Lebaran 2026 Bisa Picu 72 Ribu Ton Sampah, Mudik Massal Jadi Ancaman Lingkungan?
- Mudik Pakai Mobil Listrik Bisa Hemat 40%, EV Mulai Kuasai Jalanan Lebaran 2026
“Kalau kita sudah mencapai 300 gigawatt dari solar, maka lumayan juga, plus biofuel, itu kan terbarukan, tiap tahun kita gak akan habis-habis solar kita,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang saat ini tengah mempercepat pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga surya dan bioenergi.
Data terbaru menunjukkan pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt dalam waktu sesingkat mungkin sebagai bagian dari program swasembada energi nasional. Target ini disampaikan langsung Presiden Prabowo dalam agenda percepatan transisi energi nasional pada Maret 2026.
Selain tenaga surya, pemerintah juga mempertimbangkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju energi bersih. Indonesia bahkan disebut tengah merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir dengan kapasitas sekitar 4,3 gigawatt sebagai bagian dari upaya transisi energi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Saat ini, lebih dari separuh kapasitas listrik nasional Indonesia masih berasal dari batu bara, sementara energi terbarukan masih berada di bawah 15 persen. Hal ini mendorong pemerintah untuk mempercepat diversifikasi energi, termasuk nuklir dan energi terbarukan seperti solar dan biofuel.
Dengan kombinasi energi nuklir, solar, dan biofuel, pemerintah menargetkan Indonesia dapat mencapai ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.
