UNDIP Kembangkan BHUMI, Rumah Ikan Buatan untuk Pulihkan Ekosistem Laut
Jakarta, sustainlifetoday.com — Universitas Diponegoro (UNDIP) terus menunjukkan perannya dalam mendukung pemulihan ekosistem pesisir melalui inovasi berbasis riset dan keberlanjutan. Salah satu terobosan terbaru datang dari peneliti UNDIP, Prof. Dr. Ir. Munasik, M.Sc., yang mengembangkan BHUMI (Bangunan Hunian Rumah Ikan)—struktur rumah ikan buatan berbahan beton modular ramah lingkungan sebagai solusi alternatif pemulihan habitat laut.
Inovasi ini lahir di tengah kondisi ekosistem laut Indonesia yang kian tertekan. Berbagai wilayah perairan, termasuk Laut Jawa, mengalami degradasi serius akibat rusaknya terumbu karang dan habitat pendukung lainnya. Dampaknya, ikan kehilangan ruang penting untuk berlindung, bertelur, dan mencari makan. Dalam situasi tersebut, rekayasa habitat melalui rumah ikan buatan menjadi salah satu pendekatan strategis sambil menunggu proses pemulihan alami berlangsung.
BHUMI dikembangkan melalui kolaborasi UNDIP dengan PT Bhumi Jati Power (BJP) dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Menariknya, struktur ini memanfaatkan limbah industri berbasis FABA (Fly Ash Bottom Ash) secara bertanggung jawab, sehingga tidak hanya mendukung restorasi ekosistem laut, tetapi juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah berkelanjutan.
Uji coba BHUMI dilakukan di dua lokasi perairan Jepara, yakni Teluk Awur yang berada dekat pantai dan Karang Bokor yang berjarak sekitar lima kilometer dari garis pantai. Pemantauan yang dilakukan pada Agustus dan Oktober 2025 menunjukkan hasil awal yang menjanjikan. Dalam waktu dua bulan, rumah ikan buatan ini mulai berfungsi sebagai habitat hidup bagi berbagai biota laut.
Di Karang Bokor, delapan unit struktur BHUMI telah dihuni ratusan ikan dengan tingkat keanekaragaman yang terus meningkat. Komposisi ikan pun mengalami pergeseran, dari dominasi ikan kecil yang cepat berkolonisasi menuju ikan demersal seperti kakap dan kerapu—sebuah indikasi bahwa habitat buatan mulai stabil dan memiliki kompleksitas ekologis.
Baca Juga:
- BRIN Kembangkan Pelapis Kertas Berbasis Minyak Nabati, Alternatif Pengganti Plastik
- KLH Proses Cabut Persetujuan Lingkungan 8 Perusahaan Perusak Hutan Sumatra
- Empat Proyek PLTSa Dibangun 2026, Pemerintah Dorong Sampah Jadi Sumber Energi
Sementara itu, di Teluk Awur, jumlah dan keanekaragaman ikan relatif lebih rendah. Namun, kawasan ini justru didominasi ikan-ikan juvenil, yang menunjukkan fungsi BHUMI sebagai nursery ground atau area asuhan bagi ikan muda. Perbedaan respons ini menegaskan bahwa karakteristik lokasi sangat memengaruhi efektivitas rumah ikan buatan. Beberapa jenis ikan yang terpantau di struktur ini antara lain Pomacentridae dan Siganidae, ikan beseng, ikan beronang, Lutjanidae atau ikan kakap, Chaetodontidae (kepe-kepe monyong), dan jenis lainnya.
Tak hanya ikan, BHUMI juga mulai dihuni berbagai biota laut lain seperti bulu babi, teripang, kepiting, hingga nudibranch di lokasi Karang Bokor. Kehadiran organisme yang relatif sensitif terhadap perubahan lingkungan tersebut menjadi indikator bahwa kualitas mikrohabitat di sekitar struktur berada dalam kondisi cukup stabil.
Prof. Dr. Ir. Munasik, M.Sc., menegaskan bahwa inovasi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan terumbu karang alami.
“BHUMI kami rancang sebagai jembatan ekologis. Ia menyediakan ruang hidup sementara bagi ikan dan biota laut sambil menunggu proses pemulihan alami berlangsung,” ujarnya.
Lebih lanjut, perbedaan hasil antara Karang Bokor dan Teluk Awur memberikan pelajaran penting terkait pentingnya pemilihan lokasi berbasis data oseanografi sebelum pemasangan rumah ikan buatan.
“Kualitas perairan, kejernihan air, dan tekanan aktivitas manusia sangat menentukan kecepatan dan stabilitas kolonisasi biota. Itu sebabnya pendekatan berbasis sains menjadi kunci,” katanya.
Ia juga menyoroti pemanfaatan beton FABA dalam BHUMI sebagai contoh bagaimana limbah industri dapat diolah menjadi solusi ekologis.
“Ini contoh bagaimana inovasi material, riset ilmiah, dan tanggung jawab industri bisa berjalan bersama,” tambahnya.
Ke depan, Prof. Munasik menekankan pentingnya pemantauan jangka menengah hingga panjang selama satu hingga dua tahun untuk memastikan stabilitas ekosistem yang terbentuk. Selain itu, pengelolaan dominasi bulu babi serta penerapan zonasi terbatas di sekitar BHUMI dinilai perlu agar habitat buatan ini dapat berkembang optimal tanpa tekanan penangkapan berlebih.
