Perubahan Iklim Picu Lonjakan Sambaran Petir, BMKG Ingatkan Risiko Keselamatan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Fenomena perubahan iklim global tidak hanya berdampak pada kenaikan suhu dan pola hujan ekstrem, tetapi juga memengaruhi dinamika atmosfer yang berkontribusi terhadap meningkatnya intensitas sambaran petir di berbagai wilayah.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan menjelaskan bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama di balik lonjakan aktivitas petir, sementara faktor lain bersifat lebih lokal dan sementara.
“Sedangkan kondisi angin sesaat dan aktivitas siklon hanya bersifat mikro,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Antara pada Selasa (20/1).
Aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dinilai telah memengaruhi pola El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Dampaknya, fenomena La Niña dan El Niño terjadi dengan intensitas yang lebih kuat dan frekuensi yang semakin sering.
Curah hujan yang berlangsung hampir sepanjang tahun turut memicu pembentukan awan kumulonimbus, yakni jenis awan yang berperan sebagai sumber utama energi sambaran petir.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan adanya lonjakan signifikan jumlah sambaran petir di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama periode La Niña atau musim kemarau basah pada 2024 dan 2025.
Pada 2024, total sambaran petir di NTB tercatat mencapai 2,63 juta kali, sementara pada 2025 jumlahnya masih tergolong tinggi dengan 1,15 juta sambaran. Kabupaten Sumbawa menjadi wilayah dengan intensitas tertinggi, masing-masing mencatat 1,64 juta sambaran pada 2024 dan 705.145 sambaran pada 2025.
Baca Juga:
- Studi: Orang Kaya Dunia Sudah Habiskan Jatah Emisi Tahunan di Awal 2026
- Gunung Gede Terapkan Teknologi Gelang RFID untuk Perkuat Keselamatan Kawasan Konservasi
- Perjanjian Laut Lepas Resmi Berlaku, Era Baru Tata Kelola Keanekaragaman Hayati Global
Sebaliknya, saat El Niño terjadi dan musim kemarau berlangsung lebih panjang, intensitas petir cenderung menurun karena minimnya pembentukan awan hujan.
“Kalau ada hujan berarti ada awan kumulonimbus. Setiap muncul kumulonimbus selalu ada aktivitas petir,” kata Sumawan.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua sambaran petir mudah disadari masyarakat. Petir jenis awan ke awan, misalnya, sering kali tidak terlihat secara kasat mata meski aktivitasnya tetap tinggi.
Untuk memantau fenomena ini, BMKG telah mengoperasikan sejumlah perangkat pengamatan petir yang mampu mendeteksi sambaran setiap kali awan kumulonimbus terbentuk.
“Saat ini kami memiliki empat alat pengamatan petir di NTB, yakni di kantor Stasiun Geofisika Mataram, kantor Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Bandara Sumbawa, dan Bandara Bima,” kata Sumawan.
BMKG pun mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan turun disertai awan tebal dan gelap, karena kondisi tersebut berpotensi memicu sambaran petir yang membahayakan keselamatan.
