Musim Hujan Tingkatkan Risiko DBD, Pemprov DKI Perketat Kewaspadaan
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Curah hujan tinggi yang masih mengguyur Jakarta dalam beberapa pekan terakhir mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kondisi iklim basah dinilai mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, terutama di wilayah padat penduduk.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini memfokuskan perhatian pada pengendalian DBD, di tengah kekhawatiran masyarakat terkait isu penyakit menular musiman. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa meskipun kewaspadaan juga diarahkan pada superflu, hingga kini belum ditemukan kasus tersebut di Jakarta.
“Saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan selalu memantau dua hal. Satu yang berkaitan dengan Superflu, yang satu berkaitan dengan DB dan alhamdulillah hal yang berkaitan dengan Superflu sampai hari ini belum ada apa, yang terkena di Jakarta, dan mudah-mudahan enggak terkena,” ujar Pramono di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (20/1).
Pramono menyampaikan bahwa tren kasus demam berdarah menunjukkan peningkatan di sejumlah wilayah, khususnya Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kenaikan ini sejalan dengan tingginya intensitas hujan yang menciptakan banyak genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk.
Meski demikian, ia memastikan kesiapan fasilitas layanan kesehatan di Jakarta dalam menangani kasus DBD, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan.
“Apalagi fasilitas kita yang berkaitan dengan DB, baik itu Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit, semuanya sudah ada untuk rujukannya,” ujarnya.
Baca Juga:
- Studi: Orang Kaya Dunia Sudah Habiskan Jatah Emisi Tahunan di Awal 2026
- SII: Banjir Sumatra Ungkap Lemahnya Standar Lingkungan di Sektor Tambang
- Perjanjian Laut Lepas Resmi Berlaku, Era Baru Tata Kelola Keanekaragaman Hayati Global
Data Dinas Kesehatan menunjukkan kasus DBD di Jakarta Barat mengalami peningkatan pada periode Oktober hingga Desember 2025. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta, Sahruna, mencatat 160 kasus pada Oktober, 161 kasus pada November, dan meningkat menjadi 163 kasus pada Desember 2025.
“Sementara untuk Januari 2026 hingga 15 Januari pukul 16.00 WIB, tercatat 19 kasus DBD di Jakarta Barat,” ujarnya.
Sebaran kasus pada awal Januari 2026 didominasi wilayah Kebon Jeruk dengan tujuh kasus, disusul Kembangan empat kasus, Kalideres tiga kasus, Tambora dua kasus, serta masing-masing satu kasus di Taman Sari, Grogol Petamburan, dan Cengkareng. Adapun Palmerah dilaporkan nihil kasus DBD.
Sahruna menambahkan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, kondisi iklim sepanjang Januari 2026 sangat mendukung siklus hidup nyamuk pembawa virus dengue.
Oleh karena itu, upaya pengendalian DBD terus dilakukan melalui pemantauan jentik dan penguatan peran masyarakat. Pemerintah mengimbau warga untuk secara rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) guna menekan risiko penularan DBD selama musim hujan.
