Gunung Gede Terapkan Teknologi Gelang RFID untuk Perkuat Keselamatan Kawasan Konservasi
Jakarta, sustainlifetoday.com — Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) di bawah Kementerian Kehutanan akan menerapkan penggunaan gelang radio frequency identification (RFID) bagi seluruh pendaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.
Kebijakan ini diumumkan melalui unggahan resmi akun Instagram Ditjen KSDAE sebagai bagian dari upaya peningkatan keselamatan pengunjung sekaligus pembenahan tata kelola pendakian selama masa penutupan jalur.
Melalui teknologi RFID, pergerakan pendaki dapat terpantau secara real time di setiap titik pemeriksaan (check point), sehingga pengawasan dan pengendalian aktivitas pendakian menjadi lebih terukur.
“Setiap pendaki nanti akan dipasangkan gelang ber-chips RFID saat registrasi,” tulis unggahan tersebut, dikutip Sabtu (17/1).
Ditjen KSDAE menjelaskan, penggunaan gelang RFID diharapkan dapat mempermudah proses pencarian dan pertolongan (SAR), meningkatkan akurasi pendeteksian lokasi pendaki, serta mempercepat waktu penanganan apabila terjadi situasi darurat.
Baca Juga:
- Dinilai Antri Kritik, Istana: RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Wacana
- Ombudsman Soroti Potensi Biomassa untuk Energi Bersih Nasional
- Prabowo Instruksikan 80 Persen Beasiswa LPDP ke Keilmuan Saintek
Pada tahap awal, penerapan gelang RFID akan dilakukan di jalur pendakian Gunung Putri dan Cibodas, dengan titik check point berada di kawasan Surya Kencana.
Selain itu, sistem ini juga akan dilengkapi dengan fitur tambahan berupa panic button atau tombol SOS yang dapat digunakan pendaki saat menghadapi kondisi darurat.
Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menutup seluruh jalur pendakian dari berbagai pintu masuk mulai Senin, 13 Oktober 2025. Penutupan dilakukan untuk mendukung kegiatan pembersihan sampah, evaluasi, serta perbaikan tata kelola pendakian di kawasan konservasi tersebut.
Langkah pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari upaya pengelolaan kawasan konservasi yang lebih adaptif, aman, dan berkelanjutan, seiring meningkatnya aktivitas wisata alam dan tantangan keselamatan pendaki di kawasan pegunungan.
