BRIN Kembangkan Pelapis Kertas Berbasis Minyak Nabati, Alternatif Pengganti Plastik
Jakarta, sustainlifetoday.com — Penggunaan kemasan makanan berbahan kertas kian meluas, terutama untuk makanan dan minuman siap saji yang dibawa pulang. Selain praktis dan ringan, kemasan kertas juga dinilai lebih terjangkau serta sering dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan dibanding plastik sekali pakai.
Namun di balik citra tersebut, kemasan kertas untuk makanan dan minuman masih menyimpan persoalan keberlanjutan. Agar tidak bocor saat bersentuhan dengan air atau minyak, sebagian besar kertas kemasan saat ini dilapisi bahan berbasis plastik, seperti polyethylene. Lapisan ini membuat kemasan sulit didaur ulang atau dikomposkan secara sempurna, sekaligus berpotensi menimbulkan risiko keamanan pangan akibat migrasi komponen plastik ke dalam makanan atau minuman.
Kondisi ini mendorong Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Zatil Afrah Athaillah, untuk mengembangkan alternatif bahan pelapis kertas kemasan yang lebih aman dan berkelanjutan. Menurutnya, tantangan kebocoran pada kertas seharusnya dapat diatasi tanpa mengorbankan aspek kesehatan dan lingkungan.
“Lapisan ini berfungsi mencegah migrasi air dan minyak dari makanan, supaya tidak bocor atau merembes. Tapi karena bahannya plastik, ada persoalan keberlanjutan dan juga keamanan pangan,” kata Zatil, dikutip dari laman BRIN pada Sabtu (24/1).
Berangkat dari kebutuhan akan kemasan yang praktis, aman, dan berkelanjutan, Zatil mengembangkan metode pelapisan kertas menggunakan bahan lemak nabati. Riset ini mulai dikerjakan sejak awal 2025 sebagai upaya mencari solusi non-plastik untuk kemasan makanan berbasis kertas.
Baca Juga:
- Pidato Prabowo di WEF 2026: Tak Ada Kemakmuran Tanpa Perdamaian
- Prabowo Banggakan Program MBG di WEF 2026: Sebulan Lagi Lewati McDonald’s
- Aktivitas Penebangan di Cagar Alam Fakfak Ancam Habitat Burung Cenderawasih
Dalam penelitian tersebut, sejumlah minyak nabati diuji, antara lain minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Minyak-minyak ini dipilih karena memiliki karakteristik yang memungkinkan pembentukan lapisan pelindung pada permukaan kertas. Sementara itu, minyak lain seperti sawit dan zaitun juga diuji, namun belum memenuhi kriteria karena masih tembus air dan minyak.
Keberhasilan pelapisan diuji melalui berbagai tahapan, dimulai dari uji sederhana dengan meneteskan air dan minyak di permukaan kertas. Pengamatan dilakukan hingga 60 menit untuk melihat apakah terjadi rembesan ke bagian bawah kertas.
Jika kertas tidak menunjukkan perubahan tampilan serta tetap menahan air dan minyak hingga batas waktu tersebut, maka pelapisan dinilai berhasil. Zatil menegaskan bahwa batas waktu 60 menit dipilih semata-mata untuk kepentingan teknis pengujian.
“Kalau diperlukan, sebenarnya pengujian bisa dilakukan lebih lama,” katanya.
Selain uji tetes, analisis dilakukan menggunakan mikroskop 3D untuk mengamati bentuk tetesan air dari sisi samping serta mengukur sudut kontak air. Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar. Sebaliknya, pada kertas berlapis minyak nabati, tetesan tampak lebih membulat dengan sudut kontak mendekati 90 derajat, yang menunjukkan sifat hidrofobik atau ketahanan terhadap air.
Pengujian lanjutan juga mencakup uji kekuatan dan kelenturan kertas menggunakan texture analyzer, analisis gugus fungsi dengan fourier transform infrared (FTIR), uji kristalinitas melalui x-ray diffraction (XRD), pengujian kekentalan minyak, analisis komposisi asam lemak, serta pengamatan morfologi kertas menggunakan berbagai teknik mikroskopi, termasuk scanning electron microscopy (SEM).
“Dari sisi sifat mekanik, kertas berlapis minyak nabati menunjukkan kekuatan dan kelenturan yang mirip, bahkan dalam beberapa kasus lebih baik, dibandingkan kertas tanpa pelapis,” tambah Zatil.
Saat ini, hasil riset masih berupa lembaran kertas berlapis dan belum dikembangkan menjadi produk kemasan siap pakai seperti gelas atau wadah makanan. Meski demikian, metode pelapisan ini telah memperoleh paten pada 2025 melalui skema pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.
Ke depan, Zatil berharap riset ini dapat dilanjutkan dengan pengujian sensori untuk memastikan lapisan pelindung tersebut tidak memengaruhi rasa maupun aroma minuman seperti kopi dan teh. Ia juga tertarik mengembangkan bahan pelapis alternatif dari epicuticular lipid yang berasal dari lapisan luar daun atau kulit buah—material yang selama ini kerap dianggap limbah.
“Daun atau kulit buah sebenarnya mengandung lipid alami. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis, itu akan sangat menarik karena berasal dari limbah,” ujarnya.
Inovasi ini dipandang sebagai langkah awal menuju pengembangan kemasan makanan berbasis kertas yang lebih aman, sirkular, dan berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan industri terhadap plastik berbasis minyak bumi di tengah meningkatnya krisis sampah kemasan.
