BMKG: Penguatan Monsun Asia, Cuaca Ekstrem Masih Mengintai
Jakarta, sustainlifetoday.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa penguatan Monsun Asia menjadi salah satu faktor utama di balik meningkatnya kejadian cuaca ekstrem berupa hujan lebat di berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir. Fenomena ini menegaskan meningkatnya kerentanan iklim Indonesia, khususnya di wilayah selatan, di tengah dinamika perubahan iklim global.
BMKG menjelaskan, Monsun Asia membawa suplai massa udara lembap dari Laut China Selatan ke wilayah Indonesia melalui Selat Karimata. Aliran angin ini semakin menguat akibat adanya seruakan dingin (cold surge) dari dataran tinggi Siberia yang bergerak melintasi ekuator hingga mencapai Pulau Jawa. Kondisi tersebut memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
“Dalam sepekan ke depan, terdapat potensi peningkatan aktivitas monsun Asia disertai dengan Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) yang diprediksi menguat, sehingga massa udara lembap lebih cepat dan mudah melewati ekuator menuju wilayah selatan Indonesia,” tulis BMKG dalam laporan prospek cuaca mingguan.
BMKG menambahkan, “Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.”
Selain pengaruh monsun, BMKG juga memantau keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S dan 92P di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat serta Teluk Carpentaria. Kedua bibit siklon tersebut berperan dalam membentuk dan memperkuat daerah konvergensi atmosfer berskala luas di wilayah selatan Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian selatan, hingga Papua bagian selatan.
Baca Juga:
- Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Banjir, Pemprov DKI Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca
- LPS Catat Tabungan Rp5 Miliar ke Atas Meroket, Ketimpangan Aset Keuangan Kian Terlihat
- BRI Dorong UMKM Naik Kelas dan Inklusi Keuangan Lewat Program Klasterku Hidupku
BMKG memprakirakan kondisi cuaca nasional selama periode 26–29 Januari 2026 juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global. El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) cenderung positif. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air pembentuk awan hujan, terutama di wilayah timur Indonesia.
“Dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung tersebut, potensi terjadi cuaca ekstrim diprediksi masih tinggi,” kata BMKG.
Dalam Prospek Cuaca BMKG periode 26–29 Januari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami hujan ringan hingga lebat. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat perlu diwaspadai di Aceh, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, dan Papua.
BMKG juga mengingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang. Wilayah dengan status Siaga meliputi Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Pegunungan. Sementara potensi angin kencang diprediksi terjadi di Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
