WHO Resmi Merilis Rekomendasi Penyediaan Makanan Sehat dan Bergizi di Sekolah
Jakarta, sustainlifetoday.com — World Health Organization (WHO) merilis rekomendasi terbaru terkait penyediaan makanan sehat dan bergizi di lingkungan sekolah di berbagai negara. Rekomendasi ini bertujuan membentuk kebiasaan makan sehat sejak usia dini sekaligus menekan kesenjangan kesehatan dan gizi pada anak.
WHO menilai sekolah sebagai ruang strategis karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Lingkungan sekolah, termasuk jenis makanan dan minuman yang tersedia, dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap pola makan, kesehatan, dan kesejahteraan anak hingga dewasa.
“Makanan yang dikonsumsi anak-anak di sekolah, serta lingkungan yang membentuk apa yang mereka makan, dapat memberikan dampak yang mendalam pada pembelajaran mereka dan memiliki konsekuensi seumur hidup bagi kesehatan dan kesejahteraan,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
WHO menyoroti masih maraknya peredaran makanan tinggi lemak jenuh, asam lemak trans, gula bebas, dan garam di sekitar sekolah. Pola konsumsi tersebut dinilai tidak sejalan dengan pedoman diet nasional di banyak negara.
Kondisi ini berkontribusi terhadap berbagai bentuk malnutrisi, meningkatnya kasus kelebihan berat badan, serta melonjaknya penyakit tidak menular yang berkaitan dengan pola makan tidak sehat pada anak.
Melalui rekomendasi terbaru ini, WHO mendorong peningkatan ketersediaan, pembelian, dan konsumsi makanan serta minuman yang mendukung pola makan sehat di lingkungan sekolah. Di sisi lain, organisasi kesehatan dunia tersebut juga menganjurkan pembatasan konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat.
WHO menegaskan bahwa makanan dan minuman yang disediakan, disajikan, dijual, maupun dikonsumsi di sekolah harus aman, bergizi, dan sejalan dengan tujuan kesehatan masyarakat nasional serta pemenuhan hak anak.
Pedoman ini berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pra-sekolah, sekolah dasar, hingga sekolah menengah, baik di sekolah negeri maupun swasta. Namun, WHO tidak mengatur secara rinci mekanisme penerapan dan pemantauan kebijakan tersebut, melainkan memberikan kerangka dan rekomendasi yang dapat disesuaikan oleh masing-masing negara.
Dalam pedoman tersebut, WHO mengusulkan tiga strategi utama intervensi gizi di sekolah. Pertama, penyediaan makanan langsung bagi siswa di sekolah. Kedua, penerapan standar gizi untuk mengatur kualitas makanan yang tersedia. Ketiga, penerapan intervensi dorongan atau nudging interventions guna mempromosikan perilaku makan sehat.
BACA JUGA:
- Spesies Baru Kantong Semar Asal Kalbar Resmi Dipublikasikan ke Dunia Ilmiah
- Disinformasi, Negara, dan Hak Warga: Membaca Naskah Akademik RUU Disinformasi dari Perspektif Perlindungan Data Pribadi dan HAM
- PIS Sukses Pangkas Emisi Ratusan Ribu Ton CO2e Sepanjang 2025
Melalui strategi ini, WHO merekomendasikan peningkatan ketersediaan makanan sehat di dalam dan sekitar sekolah, seperti makanan rendah lemak, pengurangan kandungan energi makanan sekolah, serta penghapusan camilan tidak sehat.
Perubahan kemasan dan penataan kantin
Salah satu rekomendasi yang disorot adalah penerapan nudging interventions, yaitu perubahan pada kemasan, penempatan, atau ukuran porsi makanan untuk mendorong anak memilih opsi yang lebih sehat.
Contohnya, menempatkan susu murni di posisi yang lebih mudah terlihat dibandingkan susu cokelat, menyajikan buah dalam bentuk potongan, serta meningkatkan daya tarik buah dan sayuran melalui kemasan atau tampilan yang lebih menarik.
WHO juga menyarankan pengelolaan kantin sekolah agar mendorong pilihan makanan sehat, salah satunya melalui pelabelan menu sederhana seperti kategori “harian”, “sesekali”, atau “pertimbangkan untuk beralih”. Skema ini diharapkan membantu siswa dan orang tua memahami kualitas gizi makanan tanpa harus membaca label nutrisi yang kompleks.
WHO berharap rekomendasi ini dapat membantu negara-negara menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung pola makan sehat sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi mendatang.
