Refleksi Isra Mikraj, Menteri Lingkungan Hidup Ingatkan Amanah Menjaga Bumi dan Alam
Jakarta, sustainlifetoday.com — Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai pengingat akan amanah manusia sebagai penjaga bumi dan keseimbangan alam.
Pesan tersebut disampaikan Hanif dalam Peringatan Isra’ Mi’raj Kenegaraan yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (15/1) malam. Ia menyebut tema ekoteologi yang diangkat dalam peringatan Isra’ Mi’raj kali ini sangat relevan dengan kondisi lingkungan dan krisis iklim yang tengah dihadapi Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Hanif juga menyampaikan duka cita mendalam atas bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, serta sejumlah wilayah lain di Indonesia.
“Puluhan daerah terdampak, lebih dari seribu penduduk meninggal dunia, dan ratusan lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang. Ratusan ribu warga harus mengungsi, sementara fasilitas kesehatan, rumah ibadah, jembatan, dan infrastruktur lainnya mengalami kerusakan,” ujarnya.
Hanif kemudian mengaitkan peristiwa Isra’ Mi’raj dengan pesan keseimbangan alam atau mizan. Ia mengutip Surah Al-Isra ayat 1 serta Surah Ar-Rahman ayat 7–8 yang menegaskan larangan merusak keseimbangan ciptaan Allah.
Baca Juga:
- Dorong Konsep Green Retail, NWP Property dan Xurya Resmikan PLTS Atap di Empat Mal
- Penerapan Biodiesel B50 Batal untuk 2026, Menko Airlangga: Masih Terus Dikaji
- BMKG Keluarkan Peringatan Dini Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Pesisir
Menurutnya, praktik perusakan hutan, pencemaran sungai dan laut, hingga emisi gas rumah kaca yang berlebihan merupakan bentuk pelanggaran terhadap hukum keseimbangan ilahi yang berdampak langsung pada krisis lingkungan.
Lebih lanjut, Hanif mengingatkan peringatan para ahli iklim bahwa perubahan iklim telah memicu pemanasan laut, penguatan siklon tropis, serta peningkatan hujan ekstrem yang berujung pada banjir dan longsor.
Meski siklon tropis jarang memasuki wilayah Indonesia, dampaknya tetap terasa karena posisi geografis Indonesia yang berada di antara dua pusat pembentuk siklon tropis dunia, yakni Samudera Pasifik Barat dan Samudera Hindia.
“Bencana hidrometeorologi yang kita alami bukan lagi anomali, melainkan bagian dari pola iklim baru yang menuntut kesiapsiagaan, adaptasi. Serta penguatan sistem peringatan dini, dan tata ruang yang konsisten dan berkelanjutan,” katanya.
Hanif menutup tausiyah dengan menegaskan bahwa puncak Isra’ Mi’raj, yakni perintah shalat lima waktu, seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Menurutnya, shalat tidak hanya mencegah kemungkaran sosial, tetapi juga kemungkaran ekologis, seperti pemborosan air, energi, dan perusakan lingkungan.
“Shalat mengajarkan disiplin, kebersihan, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam. Bahkan Nabi Muhammad saw mengingatkan agar tidak berlebihan menggunakan air meskipun berada di sungai yang mengalir,” pungkasnya.
